dan saat ia melihat pria itu, sesuatu mengaduk-aduk isi perutnya. tatapan matanya begitu tajam sehingga Lorna tersipu dan memalingkan wajahnya. pria itu memang seperti titisan dewa, kulitnya yang coklat seperti terbakar sempurna oleh matahari. badannya atletis dan tegap, dengan otot yang menonjol tanpa lemak sedikit pun. raut wajahnya pun tergurat dengan sempurna, seakan Tuhan lupa meletakkan sedikit kekurangan pada pria itu.
Lorna pun tidak dapat menahan diri untuk membayangkan, bagaimana seandainya jika tangan-tangan kekar tersebut memeluk dirinya. Lorna langsung bergidik. tidak, dia tidak boleh membiarkan pria itu tahu dirinya kini sedang membayangkan dipeluk oleh pria itu.
damn, batin nay. novel2 ini begitu mudah. seakan2 tiap pria sempurna yg ditemui tiap tokoh utama wanita adalah seorang yg sempurna dan tiada cacat cela. romantis, tampan, kaya mapan, berpendidikan. heroik. dan hebat di tempat tidur. ciuman dahsyat, percintaan hebat tiada akhir. mudah sekali. seems like on count of three, you'll find your soulmates.
nay ngedumel, seandainya hidupnya mudah seperti itu. ga pake repot2. tinggal bilang, Tuhan, pesen duplikat eric mun satu ya, kirim lgsg ke depan rumah, ga pake repot. lgsg bilang kalo dia mau merit ama aku. ga usah pake proses pacaran dan berpikir2 dulu. karena udah pasti cowok itu soulmatenya. sekarang ia bingung. harus dijawab apaan neh?
dulu, she answered yes because that's the most logical thing to do. but now, as time passes by, she started to feel something for him. she missed him. and she's comfortable being with him. and it looks like she never had enough time to be with him. she often wishes that time would stop, she could be with him longer. but she doesn't know, is that the clue that he's the one? the right person? her prince in his shining armor riding the white horse?
and thinking again about their physical contacts. she loved being hugged by him, like being hugged by a giant bear, but a loving and tame one. she loved his scent, loved his touch, how he caressed her hair. how he planted the kiss on her forehead. how he whispered those calming words to her. and yes, they've kissed. it might not the sparkling one that she always watches on those movies, but somehow she gets addicted to it. he's so sweet. and thinking again about all the things he's done for her, she couldn't imagine what her life would be without him.
[napa nay?]
[ndakk...]
[ehm..kalo gitu...soal yg kmrn...]
[kmrn yg mana?]
[nayyy!!]
[ahahahaha...iya2...]
[kamu ini yaaa]
[hehehhee....]
[jadi?]
[do u still need to ask?]
[i have assumption, but i'd better hearing it from you directly]
[well...the answer is...yes, but ...]
[fiuh...but what?]
[but not until i pass my exam]
[soo....the end of this year?]
[ok then]